Keinginan-keinginan yang cepat, himah-himah yang kencang, tidak akan bisa menembus pagar takdir Allah SWT”.
Bagaimanapun keinginan kita , kuat dan kencangnya itu keinginan kita, tidak akan bisa merobek atau menembus pagar-pagar takdir Allah SWT.
Keinginan yang kuat didalam diri kita menimbulkan beberapa perkara,
yang pertama : Menimbulkan usaha, bagi orang yang handak sugih lalu dia berusaha untuk mendapatkan rejeki, bagi yang kuat ingin jadi orang alim berusaha kesanan kemari mengaji ilmu handak jadi orang alim, bagi orang yang handak jadi orang shaleh macam macam yang diamalkan supaya jadi orang shaleh. Itu ngaranya adalah usaha yang timbul dari keinginan yang kuat.
Yang kedua : Keinginan yang kuat dalam diri kita itu bisa menimbulkan juga do’a, keinginan dalam hati ini menggebu-gebu akhirnya berdo’a lawan Tuhan, yaa Allah hamba handak jadi ka ini nah, hamba handak jadi orang ini nah.
Yang ketiga : Dari keinginan yang kuat ini timbul sesuatu yang disebut ngaranya tawajjuh, tawajjuh ini bila dari orang shaleh ngaranya keramat bila dari orang fasiq ngaranya istidraj.
Tiga macam tadi, usaha, do’a dan tawajjuh itu berasal dari kekuatan cita-cita didalam hati kita, kekuatan cita-cita dalam hati kita yang menimbulkan usaha, atau menimbulkan do’a, atau menimbulkan tawajjuh tadi, semuanya itu kada akan berhasil bila berlawanan dengan takdir Allah. Cita-cita yang kuat handak jadi orang sugih lalu inya berusaha macam-macam buka usaha, kalau takdirnya orang ini jadi miskin usahanya selalu gagal, kalau sudah ditakdirkan jadi orang miskin kada kawa, usaha apa saja dijalankan tidak akan berhasil kalau kada didukung, diperintah, disesuaikan dengan takdir Allah.
Do’a, cita-cita yang kuat didalam hati akhirnya berdo’a, saling panjangan do’a, sampai menangis berdo’a, tapi kalau takdir kada mendukung, do’a kada akan jadi apa-apa, do’a kada akan berhasil apabila berlawanan dengan takdir Allah, kita ditakdirkan sakit, semalaman kita berdo’a supaya sehat kada akan Kabul do’a karena takdir kita sakit, jadi do’a kita kaya apa hebatnya walaupun doa dari Nabi, do’a dari wali, macam-macam dibaca kada akan berhasil kalau itu sudah bertentangan dengan takdir Allah, bagaimanapun hebatnya, kencangnya tidak akan mampu menembus takdir Allah SWT. Tawajjuh seperti itu pula.
Kenapa usaha, do’a, tawajjuh tadi tidak berhasil bila berlawanan dengan takdir?, Karena itu, usaha, do’a, tawajjuh termasuk bagian dari asbab, bagian dari sebab, asbab(sebab) itu tidak member bekas.
Bila misal kita berdo’a lalu Kabul, pandirannya (bicaranya) saja Kabul, padahal memang takdir tuhan, pas berdo’a jar Kabul, kadanya do’a itu yang Kabul, takdir Allah sudah badahulu menunggu.
Sebab itu kada member bekas, kalau sebab tidak itu memberi bekas untuk apa gunanya ? Dari satu sisi atau beberapa sisi,” sebab” itu bisa dicontohkan dengan khadam (pembantu), “sebab” itu adalah pembantu takdir, dan yang namanya pembantu itu diupah bila baik diganjar pahala, bila jahat diganjar dosa, itulah timbul sebab, sebab itu untuk menimbulkan ganjaran, kalau mempengaruhi sebab kada sama sekali, kada mempengaruhi apa-apa, Cuma hanya membuat ganjaran.
Barang Siapa yang meng i’tiqatkan (meyakini seyakin yakinnya) dalam hatinya bahwa asbab (sebab) itu memberi bekas maka dia “kafir”. Habis ku do’a’kan inya gila jar,kaya do’a itu yang menggila akan inya nah.. ini kafir karena menganggap do’a itu memberi bekas padahal do’a bagian dari sebab.
Barang siapa yang meng i’tiqatkan dalam hatinya bahwa sebab itu memberi bekas dengan kekuatan yang dijadikan Allah padanya, maka dia orang “fasiq”, Ujarnya.. sebab itu kada memberi bekas Cuma didalam sebab itu ada kekuatan yang diletakan Allah akhirnya memberi bekas , nah.. ini orang fasiq, contohnya pisau, pisau itu kada melukai ujarnya, tapi dipisau itu ada kekuatan yang diletakan Allah disitu, jadi pisau itu melukai nah ini orang fasiq ngaranya kalau ber I’tiqat seperti itu. Dan siapa yang meng I’tiqatkan bahwa sebab itu tidak memberi bekas, yang memberi bekas itu hanyalah Allah semata, tetapi apabila ada sebab maka ada musabab, maka ini orang jahil, ujarnya… api, api kada membakar yang membakar itu adalah Allah, kalau api kada memberi bekas yang memberi bekas itu Allah, tetapi kalau terkena api pasti luyuh nah.. ini orang jahil ngaranya, banyak orang yang dibakar api kada luyuh, ini menunjukkan ada sebab belum tentu ada musabab. Dan Siapa yang meng I’tiqatkan dalam hatinya bahwa sebab itu tidak memberi bekas, yang memberi bekas itu hanyalah Allah semata, adanya sebab belum tentu adanya musabab, maka inilah orang yang bertauhid sebenarnya, yang memberi bekas itu adalah Allah, sebab kada memberi bekas, oleh karena itu ada sebab belum tentu ada musabab, terkena api belum tentu luyuh (terbakar) , terkena pisau belum tentu luka, karena itu kada memberi bekas yang memberi bekas adalah Allah SWT. Termasuk diantara sebab tadi adalah usaha, yang kedua do’a, yang ketiga tawajjuh, oleh karena itu banyak usaha kita kada berhasil, banyak do’a kita kada terwujud, banyak tawajjuh orang-orang yang gagal, karena kesemuanya tidak didukung dengan takdir Allah SWT.